Memiara hewan ternak, bagi sebagian besar petani Rembang adalah “wajib” hukumnya. Pasalnya, selain sebagai bentuk investasi, bagi para petani, hewan ternak terutama sapi juga merupakan “mesin hidup” untuk membajak sawah. Dahulu, sebagian masyarakat kita menyebut sapi dengan istilah rojo-koyo , yang berarti rajanya kekayaan. Banyak sedikitnya rojo-koyo , merupakan penanda kemapanan seorang petani. Semakin banyak mereka memelihara sapi, maka dapat dipastikan semakin mapan pulakehidupan mereka. Begitu juga sebaliknya.
Percaya gak percaya, cerita klenik ini hingga sekarang masih diyakini kebenarannya oleh sebagian masyarakat Rembang. Menurut pergunjingan sebaian masyarakat, Rembang memiliki tempat misteri yang dihuni salah satu ratu pesugihan yang elok nan cantik. Lelembut dari bangsa peri tersebut, konon kabarnya akan membantu setiap pemujanya untuk mendapatkan kekayaan yang melimpah. Pesugihan tersebut bernama Nyai Puspo Cempoko.
Setiap tanggal 23 Muharrom, masyarakat Sedan dan sekitarnya memperingati haul ulama’ karismatik Sayyid Hamzah as-Syato. Ribuan orang tumblek bek dalam haul tersebut. Mereka datang dari berbagai lapisan dan daerah. Tak hanya dari Sedan, peziarah dari berbagai kota di luar Kabupaten Rembang juga berbondong-bondong memadati pesarean terakhir sang wali. Mereka berdoa dengan khidmat di sana.
Comments
Post a Comment